Dari “Manfaat” ke “Isrāf”: Menentukan Batas Keinginan Manusia
Dari “Manfaat” ke “Isrāf”: Menentukan Batas Keinginan Manusia dalam Perspektif Manṭiq dan Filsafat Islam ## Pendahuluan Kita sering menggunakan kata **manfaat**, **kebutuhan**, **keuntungan**, **hal positif**, dan **keinginan** seolah-olah semuanya sudah jelas. Namun ketika istilah-istilah tersebut didefinisikan satu sama lain, muncul persoalan yang lebih dalam. Misalnya: > Manfaat adalah hal yang positif. > Hal positif adalah sesuatu yang menguntungkan. > Keuntungan adalah manfaat yang diperoleh. Kita akhirnya kembali ke titik awal: > **manfaat → positif → keuntungan → manfaat.** Dalam perspektif **manṭiq**, definisi semacam ini bermasalah karena dapat menjadi **daur**, yaitu sesuatu dijelaskan dengan sesuatu yang pada akhirnya kembali membutuhkan sesuatu yang pertama untuk dipahami. Dari persoalan sederhana tentang definisi “manfaat”, pembahasan ternyata membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: > **Apa yang sebenarnya layak dikejar manusia?** Apak...