Postingan

Dari “Manfaat” ke “Isrāf”: Menentukan Batas Keinginan Manusia

  Dari “Manfaat” ke “Isrāf”: Menentukan Batas Keinginan Manusia dalam Perspektif Manṭiq dan Filsafat Islam ## Pendahuluan Kita sering menggunakan kata **manfaat**, **kebutuhan**, **keuntungan**, **hal positif**, dan **keinginan** seolah-olah semuanya sudah jelas. Namun ketika istilah-istilah tersebut didefinisikan satu sama lain, muncul persoalan yang lebih dalam. Misalnya: > Manfaat adalah hal yang positif. > Hal positif adalah sesuatu yang menguntungkan. > Keuntungan adalah manfaat yang diperoleh. Kita akhirnya kembali ke titik awal: > **manfaat → positif → keuntungan → manfaat.** Dalam perspektif **manṭiq**, definisi semacam ini bermasalah karena dapat menjadi **daur**, yaitu sesuatu dijelaskan dengan sesuatu yang pada akhirnya kembali membutuhkan sesuatu yang pertama untuk dipahami. Dari persoalan sederhana tentang definisi “manfaat”, pembahasan ternyata membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: > **Apa yang sebenarnya layak dikejar manusia?** Apak...

Tentang berpikir kritis

  Seorang anak SD orang tuanya meninggal dunia. Beberapa bulan kemudian bertepatan dengan lulusnya dia dari sekolah om nya datang memberikan uang 1 juta. Dia senang bukan main. Ia berterimakasih sebesar-besarnya karena telah dikasih uang besar dan ia menganggap Om nya adalah orang baik. Dia mewujudkan cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren. Uang nya ia pakai untuk keperluan di pesantren seperti kitab dll. Setelah lulus ia mempelajari banyak ilmu termasuk ilmu waris. Ia penasaran dengan warisan orang tuanya dulu. Dan ternyata ia berhak menerima uang 50 juta. Dan saat ditagih om nya tidak mau memberikan karena mungkin uangnya sudah tidak ada. Akhirnya om nya yg dianggap orang baik ternyata dia adalah orang jahat. D i awal anak ini memiliki pemikiran bahwa om nya baik walaupun ternyata faktanya tidak demikian. Sebuah hal yg bertahun tahun diyakini dia sirna begitu saja I ni sering terjadi dalam kehidupan kita. Kita menganggap sesuatu itu benar karena kesan awal. Karen...

Filosofi tauhid dalam pemrograman

Kalau alam dunia adalah program dan Allah adalah development nya maka Kun fayakun adalah bahasa pemrograman nya

Kegunaan ilmu

Gambar
  Ilmu bisa digunakan untuk 3 hal Yang pertama untuk menjelaskan fenomena baik fenomena sosial maupun fenomena alam Yang kedua digunakan untuk menciptakan rules atau norma atau aturan atau keyakinan baik yang bersifat kompleks maupun yang sederhana untuk digunakan sebagai panduan hidup yang tidak berdampak langsung pada keuntungan material atau relasi kekuasaan Yang ketiga digunakan untuk mengambil keuntungan yang bersifat materil, penghormatan, kenyamanan dan hal yang bersifat praktis baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain

Animisme dan dinamisme tidak musyrik jika dipahami dengan tauhid

 Animisme dan dinamisme tidak musyrik jika dipahami dengan tauhid Dalam sejarah di nusantara agama awal sebelum masuk hindu budha itu adalah kepercayaan animisme dan dinamisme secara definisi Animisme adalah kepercayaan pada roh nenek moyang dan roh lain yang memengaruhi kehidupan manusia. Dinamisme, sebaliknya, meyakini kekuatan gaib yang terdapat dalam benda-benda alam seperti batu, pohon, dan air. Biasanya praktek animisme dinamisme itu sendiri dipraktekan dengan membuat sesajen dan disimpan di pohon atau di berikan ke laut sebagai bentuk penghormatan kepada arwah para leluhur Ketika Islam masuk oleh walisongo, walisongo tidak serta merta menghilangkan budaya tersebut melainkan melakukan asimilasi kebudayaan dengan keislaman, sehingga dalam prakteknya walisongo berdakwah dengan pendekatan kebudayaan. Meski sekarang indonesia sudah menjadi agama mayoritas muslim tapi tetap saja ada yang masih memiliki kepercayaan terhadap alam dan para arwah dengan memberikan sesajen. Kalau dipah...

Kaum Kafir Quraisy yang Musyrik dan Perbedaannya dengan Ziarah serta Tawassul

  Kaum kafir Quraisy dikenal dalam sejarah Islam sebagai masyarakat yang musyrik, yakni menyekutukan Allah dengan makhluk atau benda lain. Mereka menyembah berhala dan menganggapnya sebagai perantara kepada Allah. Praktik ini sangat berbeda dengan ziarah kubur dan tawassul yang dilakukan oleh umat Islam. Berikut penjelasan lebih detail tentang perbedaan tersebut. Kesyirikan Kaum Quraisy Kaum Quraisy pada masa Jahiliyah sebenarnya mengakui keberadaan Allah sebagai pencipta alam semesta. Hal ini tercermin dalam Al-Qur’an, yang menyebutkan bahwa jika mereka ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, mereka akan menjawab bahwa Allah adalah penciptanya. Namun, pengakuan ini tidak diikuti dengan pemurnian ibadah kepada Allah. Mereka justru menyembah berhala sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dengan alasan bahwa berhala tersebut memiliki kedekatan khusus dengan Allah. Selain itu, mereka melakukan berbagai bentuk ibadah kepada berhala seperti sujud, doa, dan pers...

Kemajuan Negara Indonesia: Perspektif Struktur Organisasi, Partisipasi dan Keterlibatan, serta Kebebasan Berorganisasi

Kemajuan Negara Indonesia: Perspektif Struktur Organisasi, Partisipasi dan Keterlibatan, serta Kebebasan Berorganisasi Indonesia, sebagai negara kepulauan yang kaya akan budaya dan sumber daya alam, telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal struktur organisasi, partisipasi dan keterlibatan masyarakat, serta kebebasan berorganisasi. Dalam konteks ini, Indonesia dapat dilihat sebagai negara yang maju dalam beberapa aspek dibandingkan dengan negara-negara Barat. 1. Struktur Organisasi Salah satu aspek yang mencolok dari kemajuan Indonesia adalah keberadaan berbagai organisasi yang terstruktur dengan baik. Di tingkat mahasiswa, terdapat banyak organisasi yang memiliki sistem dan hierarki jelas, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Organisasi-organisasi ini tidak hanya berperan dalam memberikan wadah bagi mahasiswa untuk berkembang, tetapi juga berkont...