Dari “Manfaat” ke “Isrāf”: Menentukan Batas Keinginan Manusia

  Dari “Manfaat” ke “Isrāf”: Menentukan Batas Keinginan Manusia dalam Perspektif Manṭiq dan Filsafat Islam


## Pendahuluan

Kita sering menggunakan kata **manfaat**, **kebutuhan**, **keuntungan**, **hal positif**, dan **keinginan** seolah-olah semuanya sudah jelas. Namun ketika istilah-istilah tersebut didefinisikan satu sama lain, muncul persoalan yang lebih dalam.

Misalnya:

> Manfaat adalah hal yang positif.

> Hal positif adalah sesuatu yang menguntungkan.

> Keuntungan adalah manfaat yang diperoleh.

Kita akhirnya kembali ke titik awal:

> **manfaat → positif → keuntungan → manfaat.**

Dalam perspektif **manṭiq**, definisi semacam ini bermasalah karena dapat menjadi **daur**, yaitu sesuatu dijelaskan dengan sesuatu yang pada akhirnya kembali membutuhkan sesuatu yang pertama untuk dipahami.


Dari persoalan sederhana tentang definisi “manfaat”, pembahasan ternyata membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih mendasar:


> **Apa yang sebenarnya layak dikejar manusia?**


Apakah manusia hanya boleh mengejar sesuatu yang menjadi kebutuhannya? Jika tidak, apa batasnya? Jika manusia sudah cukup secara fisik, mengapa ia masih mengejar ilmu, seni, teknologi, kekayaan, dan berbagai hal lain? Dan kapan pencarian yang sah berubah menjadi keserakahan atau *isrāf*?

# 1. Masalah Definisi: Manfaat, Positif, dan Keuntungan

Secara umum, **manfaat** dapat dipahami sebagai sesuatu yang memberikan kegunaan atau hasil yang bernilai bagi seseorang.

Namun jika kita mendefinisikan manfaat dengan kata-kata yang maknanya sangat dekat, misalnya:

> manfaat = keuntungan

> keuntungan = hal positif

> hal positif = sesuatu yang bermanfaat,

maka kita sebenarnya belum memberikan definisi yang benar-benar menjelaskan hakikat konsep tersebut.

Dalam manṭiq, definisi idealnya membawa kita kepada sesuatu yang **lebih jelas dan lebih dikenal**, bukan hanya mengganti satu kata dengan sinonimnya.

Maka persoalannya bukan sekadar mencari kata lain untuk “manfaat”, tetapi mencari **dasar yang membuat sesuatu disebut bermanfaat**.

Di sinilah pembahasan mulai bergerak dari bahasa menuju filsafat nilai.

# 2. Apakah Semua Manfaat Berasal dari Kebutuhan?

Salah satu kemungkinan adalah:

> Sesuatu bermanfaat karena memenuhi kebutuhan manusia.

Ini tampaknya masuk akal.

Orang lapar membutuhkan makanan. Makanan memberikan manfaat karena menghilangkan lapar.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan:

> Apakah semua hal yang dikejar manusia merupakan kebutuhan?

Pertimbangkan astronomi.

Seseorang membangun teleskop yang sangat mahal untuk mengetahui bagaimana galaksi bekerja.

Ia tidak sedang lapar.

Ia tidak membutuhkan teleskop untuk bernapas.

Ia tidak akan mati jika tidak mengetahui keadaan galaksi yang jauh.

Namun ia tetap menghabiskan waktu, tenaga, dan uang untuk mengetahuinya

Berarti manusia ternyata mengejar sesuatu yang **tidak selalu merupakan kebutuhan biologis**.

# 3. Maslow Tidak Menjelaskan Seluruh Keinginan Manusia

Hierarki kebutuhan Maslow sering dipahami sebagai lima tingkatan:

1. kebutuhan fisiologis;

2. keamanan;

3. kasih sayang dan hubungan sosial;

4. penghargaan;

5. aktualisasi diri.

Misalnya seseorang hidup sederhana. Ia memiliki makanan, tempat tinggal, keluarga, keamanan, hubungan sosial, taat agama, dan merasa hidupnya cukup.

Apakah setelah itu ia harus berhenti mengejar sesuatu?

Tidak.

Ia mungkin masih membaca filsafat, mempelajari astronomi, menikmati musik, membuat karya seni, atau mencari pengetahuan.

Hal ini menunjukkan bahwa teori kebutuhan tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan:

> **Apa yang seharusnya dikejar manusia setelah kebutuhannya terpenuhi?**

Maslow terutama berbicara tentang motivasi manusia. Ia tidak otomatis memberikan teori lengkap tentang **nilai moral**.

# 4. Kebutuhan Tidak Sama dengan Keinginan

Di sinilah kita perlu membedakan beberapa konsep.

### Ḥājah — حاجة

**Ḥājah** adalah kebutuhan terhadap sesuatu untuk mencapai atau mempertahankan keadaan tertentu.

Contoh:

> lapar → membutuhkan makanan.

Tetapi kebutuhan selalu bersifat relatif terhadap tujuan.

Seseorang yang ingin menjadi dokter membutuhkan ilmu kedokteran. Orang yang tidak memiliki tujuan tersebut tidak membutuhkan ilmu kedokteran dalam pengertian yang sama.

Maka:

> **“Tidak membutuhkan X untuk hidup” tidak sama dengan “tidak membutuhkan X untuk tujuan apa pun.”**

# 5. Irādah, Shahwah, Ṭalab, dan Ghāyah

Agar tidak mencampuradukkan semua bentuk keinginan, kita dapat membedakannya.

### Irādah — إرادة

**Irādah** adalah kehendak terhadap sesuatu.

Seseorang bisa menghendaki sesuatu meskipun ia tidak sedang mengalami kekurangan biologis.

Orang yang sudah kenyang masih dapat berkata:

> “Saya ingin membaca buku.”

### Shahwah — شهوة

**Shahwah** lebih berkaitan dengan dorongan nafsani atau keinginan terhadap kenikmatan tertentu.

Namun shahwah tidak boleh dijadikan sinonim bagi seluruh keinginan manusia.

Keinginan mengetahui kebenaran, misalnya, tidak otomatis merupakan shahwah dalam pengertian nafsani.

### Ṭalab — طلب

**Ṭalab** adalah pencarian atau pengejaran terhadap sesuatu yang belum diperoleh.

Orang yang belum mengetahui apakah ada kehidupan di luar bumi melakukan *ṭalab al-‘ilm*: pencarian pengetahuan.

### Ghāyah — غاية

**Ghāyah** adalah tujuan yang hendak dicapai.

Di sinilah muncul perbedaan yang penting:

> kebutuhan menjawab **“apa yang diperlukan?”**

sedangkan:

> tujuan menjawab **“untuk apa sesuatu dikejar?”**

Sesuatu dapat menjadi tujuan tanpa menjadi kebutuhan biologis.

# 6. Apakah Keinginan di Luar Kebutuhan Berarti Keserakahan?

Tidak.

Kalau semua keinginan yang bukan kebutuhan biologis disebut serakah, maka membaca buku, menikmati musik, mempelajari matematika, melihat bintang, dan membuat karya seni juga harus disebut serakah.

Itu jelas terlalu luas.

Maka keserakahan tidak dapat didefinisikan hanya sebagai:

> **“menginginkan sesuatu yang tidak dibutuhkan.”**

Keserakahan lebih berkaitan dengan **ketidakproporsionalan keinginan**, terutama ketika pengejaran terhadap sesuatu melampaui batas yang layak dan mengorbankan hak, kewajiban, atau maslahat yang lebih penting.

Dengan demikian, objeknya saja tidak cukup.

Ilmu bisa dikejar secara baik.

Ilmu juga bisa dikejar secara buruk.

Seseorang dapat mencari ilmu untuk memahami kebenaran. Tetapi seseorang juga dapat mengejar ilmu demi kesombongan, status, atau dengan mengorbankan semua kewajibannya.

Jadi:

> **yang menentukan bukan hanya apa yang dikejar, tetapi bagaimana, mengapa, dan sampai sejauh mana ia dikejar.**

# 7. Dari Pencarian Ilmu ke Industri Teknologi

Di sinilah masalah menjadi lebih konkret.

Teknologi modern memberikan banyak manfaat:

* komunikasi;

* kesehatan;

* transportasi;

* penelitian;

* pendidikan;

* informasi.

Namun teknologi juga membutuhkan sumber daya.

Android, kendaraan, komputer, teleskop, dan berbagai perangkat membutuhkan mineral, energi, industri, transportasi, dan infrastruktur.

Semua itu memiliki biaya. Setiap industri teknologi membutuhkan material berasal dari dalam tanah yg diambil dengan melakukan pertambangan 

Pertambangan dapat menyebabkan:

* perubahan bentang alam;

* pencemaran;

* kerusakan ekosistem;

* konflik penggunaan lahan;

* dampak terhadap masyarakat sekitar.

Maka kita tidak bisa berhenti pada kalimat:

> “Teknologi bermanfaat.”

Pertanyaan berikutnya harus muncul:

> **Apakah semua cara memperoleh manfaat tersebut juga dibenarkan?**

Jawabannya tidak otomatis.

Tujuan yang baik tidak otomatis menjadikan seluruh sarana yang digunakan untuk mencapainya menjadi baik.

# 8. Tujuan, Sarana, dan Pengorbanan

Kita dapat membedakan tiga hal:

### Ghāyah — tujuan

Misalnya:

> memperoleh pengetahuan tentang alam semesta.

### Wasīlah — sarana

Misalnya:

> teleskop, roket, komputer, mineral, energi, tenaga manusia, dan anggaran.

### Konsekuensi

Misalnya:

> manfaat ilmiah, tetapi juga penggunaan sumber daya dan kemungkinan kerusakan lingkungan.

Karena itu:

> **“Ilmu itu baik” tidak berarti “setiap cara memperoleh ilmu itu baik.”**

Sebuah tujuan yang baik tetap harus dicapai melalui sarana yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pertanyaannya kemudian menjadi:

> **Berapa kadar pengorbanan yang dibenarkan?**

Tidak ada satu angka universal.

Kita tidak dapat mengatakan bahwa semua tujuan boleh mengorbankan 10%, 20%, atau 30% sumber daya.

Kadar harus dinilai berdasarkan:

* nilai tujuan;

* besarnya kebutuhan;

* besarnya dampak;

* kemampuan pemulihan;

* hak pihak lain;

* adanya alternatif;

* dan proporsionalitas antara manfaat dan mudarat

# 9. Hak Siapa yang Tidak Boleh Dikorbankan?

Ketika sebuah produk memberikan manfaat kepada seseorang, kita harus bertanya:

> **Siapa yang membayar biaya dari manfaat tersebut?**

Misalnya sebuah perangkat memberikan manfaat kepada konsumen.

Tetapi jika pembuatannya mengakibatkan:

> pencemaran air + kerusakan tanah + hilangnya mata pencaharian masyarakat,

maka tidak cukup mengatakan:

> “Tetapi konsumen mendapatkan manfaat.”

Manfaat satu pihak tidak otomatis membenarkan mudarat kepada pihak lain.

Karena itu, evaluasi moral harus memperhitungkan pihak yang terdampak, bukan hanya pihak yang memperoleh keuntungan.

# 10. Masalah Pasar: Mengapa Permintaan Bisa Terus Bertambah?

Kemudian muncul keberatan penting:

> “Bukankah produksi hanya dilakukan karena ada kebutuhan pasar?”

Di sinilah kita harus membedakan **kebutuhan manusia** dari **permintaan pasar**.

Pasar dapat menunjukkan:

> berapa banyak orang yang mau dan mampu membeli sesuatu.

Tetapi pasar tidak otomatis menunjukkan:

> berapa banyak yang secara objektif diperlukan manusia.

Seseorang membutuhkan alat komunikasi.

Tetapi ia mungkin membeli perangkat baru setiap dua tahun meskipun perangkat lamanya masih berfungsi.

Secara ekonomi, pembelian itu tetap merupakan permintaan.

Maka:

> **permintaan pasar ≠ kebutuhan biologis.**

Lebih jauh lagi, pasar juga dapat memperbesar keinginan melalui:

* iklan;

* tren;

* status sosial;

* inovasi;

* tekanan sosial;

* rasa takut ketinggalan.

Karena itu, pasar tidak memiliki konsep “cukup” secara moral dengan sendirinya.

Selama masih ada permintaan dan keuntungan, produksi dapat terus diperluas.

# 11. Tetapi Apakah Semua Permintaan Tambahan Itu Isrāf?

Di sini kita menemukan masalah yang sangat penting.

Kalau kita berkata:

> “Kebutuhan dasar sudah terpenuhi, maka konsumsi tambahan adalah isrāf,”

maka konsekuensinya absurd.

Pedagang UMKM yang menjual:

* gorengan;

* bakso;

* es teh;

* kopi;

* makanan ringan;

akan dianggap melakukan kesalahan hanya karena manusia sudah makan makanan berat.

Padahal itu jelas tidak benar.

Maka definisi:

> **isrāf = sesuatu yang tidak diperlukan untuk bertahan hidup**

adalah definisi yang terlalu sempit.

Manusia tidak hanya makan untuk mencegah kematian. Ada variasi, kenikmatan, sosialitas, budaya, rekreasi, dan tujuan lain yang sah.

Karena itu kita harus kembali kepada kata yang lebih penting:

> **kadar.**

# 12. Isrāf sebagai Pelampauan Batas

Secara konseptual, **isrāf** lebih tepat dipahami sebagai pelampauan terhadap batas yang semestinya.

Jadi:

> makan gorengan → belum tentu isrāf.

Tetapi:

> makan secara berlebihan sampai merusak diri → dapat menjadi isrāf.

Membeli telepon yang lebih baik:

> belum tentu isrāf.

Membuang perangkat yang masih berfungsi terus-menerus hanya demi mengikuti tren:

> lebih dekat kepada pemborosan.

Maka masalahnya bukan:

> **“Apakah ini kebutuhan primer?”**

melainkan:

> **“Apakah penggunaannya telah melampaui kadar yang patut?”**

# 13. Bagaimana dengan Sawit?

Kerangka yang sama berlaku pada sawit.

Tidak tepat mengatakan:

> “Manusia sudah kenyang, maka tambahan produksi sawit adalah isrāf.”

Sawit memiliki berbagai penggunaan dan kebutuhan manusia tidak hanya berupa makanan untuk bertahan hidup.

Namun kita dapat bertanya:

> **Apakah tingkat produksi dan ekspansi tertentu sudah melampaui kadar yang patut jika dibandingkan dengan kebutuhan, manfaat, dampak ekologis, hak masyarakat, dan alternatif yang tersedia?**

Di sinilah konsep isrāf menjadi relevan.

Bukan:

> **sawit = isrāf**

melainkan:

> **produksi atau ekspansi sawit yang melampaui kadar yang layak dan menimbulkan mudarat yang tidak proporsional dapat menjadi bentuk isrāf.**

# 14. Pasar Tidak Sama dengan Kadar Moral

Misalnya pasar berkata:

> “Permintaan sawit masih tinggi.”

Maka secara ekonomi perusahaan memiliki alasan untuk meningkatkan produksi.

Tetapi secara moral masih ada pertanyaan:

> **“Apakah setiap permintaan harus dipenuhi?”**

Tidak otomatis.

Karena:

> permintaan pasar adalah alasan ekonomi

tidak identik dengan:

> kelayakan moral.

Pasar menjawab:

> **“Berapa banyak yang dapat dijual?”**

Etika bertanya:

> **“Berapa banyak yang layak diproduksi?”**

Kedua pertanyaan tersebut tidak selalu menghasilkan angka yang sama.

# 15. Maka Apa Tujuan yang Layak?

Kita kemudian dapat menyusun lima pertanyaan dasar.

### Pertama: Apa tujuan yang layak?

Tujuan yang layak bukan sekadar sesuatu yang saya inginkan.

Ia harus memiliki nilai yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak bertentangan dengan tujuan yang lebih tinggi.

Dengan kata lain:

> **irādah tidak otomatis memberikan legitimasi moral.**

Saya menginginkan sesuatu tidak berarti saya berhak mendapatkannya dengan cara apa pun.

### Kedua: Apa yang boleh dijadikan sarana?

Tidak semua sarana menjadi sah hanya karena tujuannya baik.

Pengetahuan dapat menjadi tujuan yang baik, tetapi cara memperoleh pengetahuan tetap harus dinilai.

### Ketiga: Berapa kadar pengorbanan yang dibenarkan?

Tidak realistis mengharapkan aktivitas manusia tanpa konsekuensi.

Pertanyaannya bukan:

> “Apakah ada dampak?”

melainkan:

> **“Apakah dampak tersebut proporsional dengan tujuan yang hendak dicapai?”**

### Keempat: Hak siapa yang tidak boleh dikorbankan?

Manfaat yang saya dapatkan tidak otomatis membenarkan kerugian yang saya timpakan kepada orang lain.

### Kelima: Kapan ṭalab berubah menjadi ifrāṭ?

*Ṭalab* adalah pencarian.

*Ifrāṭ* adalah pelampauan batas.

Maka:

> **ṭalab menjadi ifrāṭ ketika pengejaran terhadap sesuatu melampaui kadar yang dibenarkan oleh tujuan, sehingga mengabaikan hak, kewajiban, proporsionalitas, atau tujuan yang lebih tinggi.**

# 16. Lalu Berapa Banyak Manusia Boleh Menambang?

Pertanyaan ini tampaknya membutuhkan angka.

Namun sebenarnya angka bukan titik awal.

Tidak ada prinsip sederhana:

> “Boleh menambang maksimal sekian persen.”

Yang lebih tepat adalah menentukan batas berdasarkan konteks.

Kita harus bertanya:

1. Apa tujuan penambangan?

2. Seberapa penting mineral tersebut?

3. Berapa jumlah yang benar-benar diperlukan?

4. Apakah ada alternatif?

5. Seberapa besar kerusakannya?

6. Apakah kerusakan dapat dipulihkan?

7. Siapa yang menanggung dampaknya?

8. Apakah hak masyarakat terlindungi?

9. Apakah tambahan produksi memberikan manfaat yang sebanding dengan tambahan mudarat?

Dengan demikian, batas bukan:

> **“sebanyak yang masih dapat dijual.”**

Melainkan:

> **“sebanyak yang masih dapat dibenarkan untuk mencapai tujuan yang sah tanpa melampaui batas moral, hak, dan ekologis yang relevan.”**

# 17. Batas Pasar dan Batas Moral

Di sini kita akhirnya dapat membedakan tiga batas.

### Batas kebutuhan

> Berapa yang benar-benar diperlukan untuk tujuan tertentu?

### Batas pasar

> Berapa yang masih dapat dijual dan menguntungkan?

### Batas moral

> Berapa yang layak diambil dan digunakan tanpa melampaui hak dan kadar yang semestinya?

Masalah muncul ketika:

> **batas pasar dianggap sebagai batas moral.**

Jika pasar masih meminta, produksi dianggap boleh terus bertambah.

Padahal:

> **“masih ada permintaan” tidak sama dengan “masih layak dipenuhi.”**

# 18. Kesimpulan: Masalahnya Bukan Keinginan, tetapi Batas Keinginan

Manusia memang tidak hanya mengejar sesuatu karena kekurangan biologis.

Manusia dapat mencari:

* ilmu;

* kebenaran;

* keindahan;

* makna;

* pengembangan diri;

* dan berbagai tujuan lain.

Karena itu, tidak tepat mengatakan:

> **“Yang tidak dibutuhkan berarti tidak boleh dikejar.”**

Tetapi juga tidak tepat mengatakan:

> **“Kalau diinginkan berarti boleh dikejar.”**

Di antara dua ekstrem tersebut terdapat persoalan **kadar**.

Kerangka yang lebih lengkap adalah:

> **Ḥājah** → apa yang diperlukan.

> **Irādah** → apa yang dikehendaki.

> **Shahwah** → dorongan nafsani tertentu.

> **Ṭalab** → pencarian terhadap sesuatu.

> **Ghāyah** → tujuan yang hendak dicapai.

> **Wasīlah** → sarana untuk mencapainya.

> **I‘tidāl** → keseimbangan dan proporsionalitas.

> **Ifrāṭ** → pelampauan batas.

> **Isrāf** → penggunaan atau pengambilan yang melampaui kadar yang semestinya.

Dengan kerangka ini, **ilmu tidak otomatis menjadi keserakahan, teknologi tidak otomatis menjadi keserakahan, perdagangan tidak otomatis menjadi keserakahan, dan sawit tidak otomatis menjadi isrāf.**

Yang harus dinilai adalah:

> **tujuannya apa, sarana yang digunakan apa, kadarnya berapa, siapa yang menanggung akibatnya, dan apakah pengejarannya telah melampaui batas yang semestinya.**

Maka pertanyaan paling mendasar bukan lagi:

> **“Apakah manusia membutuhkan ini?”**

melainkan:

> **“Jika manusia mengingink

annya, apa yang membuat keinginan itu layak dipenuhi, sampai batas mana ia layak dipenuhi, dan kapan ia berubah menjadi pelampauan batas?”**

Di situlah persoalan **manfaat, kebutuhan, keinginan, pasar, keserakahan, dan isrāf** akhirnya bertemu pada satu persoalan yang sama: **menentukan kadar yang benar bagi kehendak manusia.**

Postingan populer dari blog ini

Kegunaan ilmu

Rocky gerung

Animisme dan dinamisme tidak musyrik jika dipahami dengan tauhid